Tugas LKMM-TD INDIVIDU
Nama : Natasya Eka Cahyani
Kelompok : 09 MYELIN
Permasalahan yang pernah saya hadapi yaitu saya sulit mengatakan tidak atau penolakan kepada orang.
Salah satu permasalahan yang pernah saya alami adalah kesulitan mengatakan “tidak” ketika orang lain meminta bantuan, meskipun saat itu saya sedang memiliki urusan pribadi yang harus diselesaikan. Masalah ini kelihatan sederhana, tapi dampaknya cukup besar dalam sehari-hari. Saya sering kali mengiyakan permintaan orang lain karena takut mengecewakan orang tersebut, merasa tidak enak, takut atau khawatir mereka salah paham dan menganggap saya tidak peduli. Padahal, di balik setiap kata iya saya yang saya berikan, ada konsekuensi yang harus saya tanggung sendiri, mulai dari tugas yang tertunda, waktu istirahat yang berkurang, hingga stres yang perlahan menumpuk.
Masalah ini semakin terasa berat ketika permintaan yang datang bukan hanya dari satu orang, melainkan dari beberapa orang sekaligus. Seperti contohnya saya sudah merencanakan hari untuk menyelesaikan tugas penting, tetapi tiba-tiba ada teman yang meminta bantuan yang membutuhkan saya untuk satu keperluan. Karena saya terbiasa mengatakan iya, saya akhirnya mengambil semua tanggung jawab tersebut dan mengorbankan rencana yang sebenarnya sudah saya susun. Pada akhirnya, saya sendiri yang merasa kewalahan, tapi tidak berani mengaku bahwa saya sebenarnya kesulitan menolak.
Setelah mengalami hal ini berulang-ulang, saya mulai mencoba memahami akar permasalahannya. Sepertinya kesulitan saya mengatakan “tidak” tidak hanya disebabkan oleh rasa tidak enak, tetapi dipengaruhi oleh pola pikir dan kebiasaan tertentu yang sudah tertanam sejak lama. Saya adalah orang yang selalu merasa takut melukai hati orang atas perkataan saya yang saya sampaikan, setiap ucapan yang telah saya bicarakan setelah mengungkapkan sayaa selalu berfikir apakah ucapan saya sudah benar atau malah melukai hati seseorang yang saya ajak bicara. Overthingking terlalu berlebihan juga tidak baik untuk diri saya sendiri, sayaa mudah cemas, otak penuh, dan kekhawatiran yang terus timbul difikiran saya, terkadang saya sampai berdiam diri untuk memikirkan hal ini. Dari sini saya berfikir lagi bagaimana cara saya mengatasi hal tersebut
Cara saya mengidentifikasi Penyebab Masalah
1. Takut mengecewakan orang lain
Salah satu alasan paling kuat adalah rasa takut membuat orang lain merasa tersinggung atau kecewa. Saya merasa bahwa jika saya menolak, orang tersebut mungkin berpikir buruk tentang saya. Saya khawatir hubungan yang sudah baik akan terganggu hanya karena satu penolakan, dan ini masalah yang sering saya hadapi.
2. Terlalu ingin terlihat dapat diandalkan
Saya memiliki kecenderungan untuk selalu terlihat sebagai orang yang bisa diandalkan. Ketika ada yang meminta bantuan, saya merasa harus membantu agar mereka melihat saya sebagai seseorang yang baik dan berguna. Tapi, keinginan ini ternyata membuat saya memaksakan diri melampaui batas kemampuan saya sendiri.
3. Tidak terbiasa menetapkan batasan
Saya juga menyadari bahwa saya tidak pernah benar-benar menetapkan batasan dalam interaksi dengan orang lain. Saya hampir selalu memprioritaskan kebutuhan mereka dibanding kebutuhan saya sendiri. Akibatnya, saya terbiasa mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatan demi memenuhi permintaan orang lain.
4. Kekhawatiran berlebihan terhadap penilaian orang
Saya sering berpikir terlalu jauh tentang apa yang orang lain mungkin pikirkan jika saya menolak. Padahal, kenyataannya sebagian besar orang sebenarnya memahami bahwa kita juga memiliki keterbatasan.
Cara saya untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara :
1. Belajar menetapkan batasan dengan jelas
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mulai membuat batasan yang realistis dan sehat. Saya belajar mengatakan, “Maaf, aku tidak bisa bantu hari ini karena ada hal yang harus kuselesaikan,” tanpa merasa bersalah. Menetapkan batasan bukan berarti egois justru itu bentuk menghargai diri sendiri. Semakin sering saya melakukannya, semakin mudah rasanya menolak permintaan yang memang tidak bisa saya tangani.
2. Mengubah pola pikir tentang penolakan
Saya mulai memahami bahwa mengatakan “tidak” bukan berarti saya jahat atau tidak peduli. Menolak adalah bagian dari menjaga keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa orang lain pun pasti pernah menolak permintaan saya, dan saya bisa menerimanya tanpa marah. Jika saya bisa menerima itu, maka orang lain pun kemungkinan besar bisa menerima penolakan saya. Mengubah pola pikir ini membuat saya lebih nyaman dalam menentukan batas.
3. Memberikan alternatif yang realistis
Ketika saya tidak bisa membantu, saya belajar memberikan alternatif agar tetap menunjukkan empati tanpa harus mengorbankan diri. Misalnya: “Aku tidak bisa bantu sekarang, tapi mungkin besok aku bisa,” atau “Aku tidak bisa ikut, tapi kamu bisa coba tanya A, dia lebih paham soal itu.” Cara ini membuat saya tetap dapat menjaga hubungan baik tanpa harus mengatakan “ya” setiap saat.
Komentar
Posting Komentar